Laporan dari Reuters mengungkap bahwa Sergei Vassilvitskii, seorang ilmuwan terkemuka di Google, menyampaikan kekhawatiran kepada regulator antimonopoli Uni Eropa terkait rencana European Commission yang ingin mewajibkan perusahaan berbagi data pencarian dengan pihak pesaing. Dalam pernyataannya, ia menilai metode anonimisasi yang diusulkan belum cukup kuat untuk melindungi privasi pengguna. Bahkan, tim internal Google disebut mampu mengidentifikasi kembali pengguna dari data yang telah dianonimkan dalam waktu kurang dari dua jam.
Regulasi yang tengah dibahas ini mencakup kemungkinan akses terhadap berbagai jenis data, seperti peringkat pencarian, kueri, klik, hingga riwayat tampilan. Kebijakan tersebut dijadwalkan akan difinalisasi pada 27 Juli. Di sisi lain, Google menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dalam merancang perlindungan privasi yang lebih kuat, meskipun juga menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi bentuk regulasi yang berlebihan.
Secara teknis, isu ini berkaitan dengan tantangan dalam menjaga anonimitas data di tengah kemajuan teknologi analitik dan kecerdasan buatan. Metode seperti penghapusan identitas langsung tidak selalu cukup, karena pola perilaku pengguna yang unik dapat digunakan untuk mengidentifikasi kembali individu melalui teknik seperti data linkage atau inferensi berbasis model. Oleh karena itu, pendekatan seperti diferensial privasi, agregasi data, pembatasan akses, serta kontrol keamanan yang ketat menjadi solusi yang sering dibahas dalam praktik industri.
Kasus ini mencerminkan dilema antara mendorong persaingan pasar melalui keterbukaan data dan menjaga perlindungan privasi pengguna. Kebijakan yang diambil nantinya akan sangat menentukan bagaimana data perilaku pengguna dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga, sekaligus menetapkan standar teknis dan tata kelola yang harus dipenuhi.
Perkembangan isu ini menunjukkan bahwa pengelolaan data, khususnya dalam konteks data anonymization dan perlindungan privasi, menjadi kompetensi yang semakin krusial di era kecerdasan buatan. Kemampuan memahami teknik analisis data, mitigasi risiko re-identification, serta penerapan standar seperti differential privacy kini menjadi kebutuhan utama bagi praktisi di bidang data. Oleh karena itu, meningkatkan kompetensi melalui sertifikasi profesional menjadi langkah strategis. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah mengikuti sertifikasi skema Data Scientist di Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Rekayasa dan Informatika, yang dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan analisis data, pengolahan model, serta pemahaman etika dan keamanan data sesuai kebutuhan industri saat ini.
[1] Let’s Data Science, “Google scientist warns EU data sharing risks privacy,” Let’s Data Science, May 5, 2026. [Online]. Available: https://letsdatascience.com/news/google-scientist-warns-eu-data-sharing-risks-privacy-c9865352